Artikel

Wagub Djarot: Jakarta Darurat Sampah Plastik

Oleh GIDKP
October 26th, 2016
Baca artikel

Jakarta, CNN Indonesia — Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan saat ini akumulasi sampah plastik di Jakarta sudah memasuki tahap darurat dan perlu diwaspadai. Djarot mengatakan saat ini terdapat 770 ton sampah plastik atau 11 persen dari 7.000 ton sampah yang ada di Jakarta.

“Ini sudah darurat. Kalau kita ke sungai yang ada di Jakarta sampai ke laut itu plastik semua dan dia akan terurai 500-1000 tahun mendatang. Makanya kita harus keras dan tidak perlu main-main lagi,” ujar Djarot ditemui usai menghadiri Deklarasi Indonesia Bebas Sampah 2020 di area Car Free Day, Bundaran HI, Minggu (21/2).

Djarot mengatakan jumlah sampah plastik tersebut rata-rata disumbang oleh pasar tradisional dan pasar ritel yang memang menggunakan plastik sebagai fasilitas dalam aktivitas perdagangan.

Guna mengurangi dampak negatif dari penumpukan sampah plastik menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memberlakukan tarif tinggi bagi setiap penggunaan kantung plastik pada saat berbelanja. Untuk pasar ritel modern, Pemprov DKI berencana membuat aturan pengenaan harga sebesar Rp 5000 untuk setiap satu kantung plastik.

Sementara untuk pasar tradisional, Pemprov masih memberikan keringanan harga yakni Rp 500 per kantung plastik. Namun ia meyakinkan harga tersebut akan merangkak naik seiring gencarnya sosialisasi anti penggunaan kantung plastik.

“Kita sudah uji coba di pasar Kramat Jati, yang paling besar saja. Saya sudah bilang sama direksinya, untuk uji coba di pasar. Terutama yang besar-besar. Produksi sampah paling banyak itu ada di pasar induk, salah satunya di Kramat Jati,” ungkap Djarot.

Sampah masih jadi persoalan besar di Indonesia. Tak hanya masalah pengelolaan atau penyakit yang mungkin ditimbulkannya, tapi juga masalah perilaku masyarakat yang masih saja membuang sampah sembarangan.

Pada kesempatan yang sama, Syir Asih Amanati, perwakilan Relawan `Bergerak untuk Indonesia #BebasSampah2020` mengatakan dalam sebuah penelitian yang dilakukan Jenna R. Jambeck dari Universitas Georgia pada 1 Juni 2015, menyatakan Indonesa kini berada dalam peringkat kedua dunia sebagai penyumbang sampah plastik ke laut.

Untuk itu 801 komunitas dari 155 kota/kabupaten di 34 provinsi bergerak bersama membersihkan sampah dalam Kerja Bakti Nasional pada Minggu, 21 Februari 2016.

Gerakan ini dimotori sekumpulan relawan muda yang berinisiatif dan berhasil merangkul pemuda lain dari Aceh sampai Papua untuk mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020.

“Ini sungguh sebuah sejarah kebangkitan kepedulian akan isu persampahan. Kami yakin dengan kerja sama dari seluruh pihak, maka Indonesia Bebas Sampah 2020, bukanlah sesuatu hal yang mustahil untuk diwujudkan,” ungkap Syir. (tyo)

Artikel di atas dapat dibaca di sini

BAGIKAN

media terkait

Pilih kategori

dukung sekarang

Dukung dan bergabung dengan gerakan kami sekarang baik menjadi relawan, mitra hingga petisi dan donasi.
media terkait
Pilih kategori