logo Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik
Artikel

Urgensi Pengelolaan Sampah

Oleh GIDKP
Oktober 26th, 2016
Baca artikel

Metro, Pojoksamber.com- Dewasa ini, persoalan sampah di perkotaan tak kunjung selesai. Kepadatan penduduk membuat konsumsi masyarakat tinggi lahan untuk sisa konsumsi terbatas. Hasil riset Jenna R Jambeck dan kawan-kawan menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Persoalan semakin bertambah. Sampah konsumsi warga perkotaan itu ternyata banyak yang tidak mudah terurai, terutama plastik. Semakin menumpuknya sampah plastik menimbulkan pencemaran serius. Kantong plastik baru dapat mulai terurai paling tidak selama lebih dari 20 tahun di dalam tanah. Jika kantong plastik itu berada di air, akan lebih sulit lagi terurai. Kondisi ini disadari sebagian masyarakat dengan menumbuhkan upaya pengurangan sampah plastik.

Menurut Riset Greeneration, organisasi nonpemerintah yang 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi ancaman kehidupan dan ekosistem. Kondisi ini menjadi salah satu pemicu Indonesia dalam kondisi darurat sampah. Namun, tidak semua masyarakat menyadari kondisi ini.

Menurut Yerri Noer Kartiko, Kepala Kantor Lingkungan Hidup di Kota Metro, Produksi sampah rerata per orang adalah 0,7 kilogram setiap harinya, dan hampir 1000 s.d. 7000 ton timbulan sampah setiap harinya yang diangkut ke TPA. Sumber timbulan sampah adalah kegiatan rumah tangga, komposisi sampah organik melebihi 50%, dibuang dan diangkut ke TPA berkisar 69%, yang belum terkelola sekitar 8,5% dan yang dimanfaatkan baru sekitar 7,5%, sebanyak 10% open burning dan buang sampah ke badan air/ air permukaan.

Lebih lanjut Yeri mengatakan dari 357 kota atau kabupatan yang dipantau baru sebanyak 43% kota yang Tempat Pembuangan Akhir Sampah yang telah non open dumping, sekurang-kurangnya controlled landfill.

Disamping itu, salah satu upaya pengelolaan sampah adalah Bank Sampah. Sampai dengan tahun 2015, di Indonesia telah berdiri 3533 unit Bank Sampah, yang telah berhasil mengelola sampah sebanyak 5.550.333 kilogram setiap bulan, memiliki nilai potensi ekonomi sebanyak 34 milyar setiap bulan dengan jumlah nasabah sebanyak 174.413 orang.

“Melihat kondisi ini Rencana jangka panjang sangat diperlukan dan mendesak bagi Pemerintah Kota Metro untuk memprioritaskan konversi TPA. Selain itu mulai menjadikan konsep smart city, sustainable environment city, green city, green and blue economy,” pungkasnya

Artikel di atas dapat dibaca di sini

BAGIKAN

Artikel terkait

Pilih kategori

DUKUNG SEKARANG

Dukung dan bergabung dengan gerakan kami sekarang baik menjadi relawan, mitra hingga petisi dan donasi.
Artikel terkait
Pilih kategori