Sachet adalah kemasan fleksibel berukuran kecil yang digunakan untuk mengemas produk dalam jumlah atau porsi kecil. Format ini umum ditemukan pada kopi instan, bumbu, saus, sampo, sabun, deterjen, dan berbagai produk sekali pakai.
Bahannya tidak selalu sama. Ada kemasan yang menggunakan satu jenis material utama, tetapi banyak produk memakai beberapa lapisan dengan fungsi berbeda. Struktur seperti ini membantu melindungi isi dari udara, kelembapan atau cahaya, namun juga dapat membuat sampahnya lebih sulit diproses setelah digunakan.
Apa Itu Sachet?
Yang perlu dibedakan terlebih dahulu adalah bentuk kemasan dan bahan pembuatnya. Kemasan sachet adalah kemasan fleksibel kecil untuk isi dalam jumlah terbatas, sering kali untuk satu atau beberapa kali penggunaan.
Istilah tersebut tidak merujuk pada satu jenis plastik tertentu. Produk dapat dibuat dari satu polimer, kombinasi beberapa polimer, atau bahan lain sesuai kebutuhan. Dengan kata lain, istilah ini menjelaskan format kemasan, bukan komposisinya.
Dalam regulasi Indonesia juga ditemukan penulisan saset. Permen LHK No. 75 Tahun 2019 memakai istilah tersebut ketika mengatur kemasan fleksibel plastik berukuran kecil.
Contoh Penggunaannya
Format ini dipakai karena ringan, hemat ruang dan memungkinkan produk dijual dalam porsi kecil.
| Kelompok produk | Contoh |
|---|---|
| Makanan dan minuman | kopi instan, bumbu, saus |
| Perawatan pribadi | sampo, sabun |
| Produk rumah tangga | deterjen, bahan pembersih |
Permen LHK No. 75 Tahun 2019 secara khusus menyebut kemasan makanan, sabun dan sampo sebagai contoh yang termasuk dalam ketentuan tertentu mengenai pengurangan sampah produsen.
Ukuran kecil tidak menentukan jenis materialnya. Dua produk dengan format sama dapat menggunakan struktur bahan berbeda karena kebutuhan terhadap kekuatan, ketahanan terhadap udara, kelembapan, cahaya dan masa simpan juga berbeda.
Jenis Bahan yang Digunakan
Bahan kemasan sachet dapat berupa struktur sederhana maupun gabungan beberapa lapisan. Pada kemasan fleksibel, material yang umum digunakan antara lain polyethylene (PE), polypropylene (PP) dan polyethylene terephthalate (PET). Dalam struktur yang lebih kompleks dapat ditambahkan aluminium, EVOH, EVA, adhesive atau material lain untuk menghasilkan sifat tertentu.
| Bahan | Fungsi yang dapat diberikan dalam struktur kemasan |
|---|---|
| PE / PP | penyegelan, perlindungan terhadap kelembapan dan fungsi struktural |
| PET | kekuatan mekanis, stabilitas dan kemudahan pencetakan |
| EVOH | penghalang terhadap oksigen |
| Aluminium | penghalang terhadap cahaya, oksigen dan kelembapan |
| EVA | penyegel atau adhesive |
| PU dan adhesive lain | mengikat lapisan yang berbeda |
Tidak semua produk mengandung seluruh material di atas. Struktur dipilih sesuai karakter isi dan tingkat perlindungan yang diperlukan. Karena itu, tidak tepat menganggap semua kemasan kecil mempunyai susunan PET–aluminium–PE atau kombinasi tertentu lainnya.
Monolayer dan multilayer
Monolayer menggunakan struktur yang lebih sederhana, sedangkan multilayer memiliki lebih dari satu lapisan. Keduanya bukan istilah untuk format produk, melainkan cara menjelaskan struktur bahannya.
Apa Itu Plastik Multilayer?
Plastik multilayer digunakan ketika satu material saja tidak cukup untuk memberikan seluruh sifat yang dibutuhkan.
Lapisan berbeda dapat mempunyai tugas berbeda: memberi kekuatan mekanis, memungkinkan kemasan disegel, mengurangi masuknya oksigen atau kelembapan, menghalangi cahaya, atau menyediakan permukaan untuk pencetakan. Karena itu, kombinasi beberapa lapisan dapat memperpanjang umur simpan produk tanpa membuat kemasan menjadi tebal atau berat.
Konsekuensinya muncul setelah pemakaian. Lapisan yang sebelumnya berguna untuk melindungi isi dapat menjadi sulit dipisahkan dalam proses daur ulang.
Mengapa Sampahnya Sulit Didaur Ulang?
Masalah utama plastik sachet bukan sekadar ukurannya yang kecil. Pada struktur multilayer, beberapa jenis polimer dan kadang material nonplastik terikat menjadi satu.
Ada beberapa faktor yang membuat prosesnya sulit:
- Material berbeda menempel satu sama lain. PE, PET, aluminium, adhesive dan lapisan lain tidak selalu dapat diproses dalam aliran daur ulang yang sama.
- Sifat polimer berbeda. Perbedaan karakteristik dan suhu pemrosesan dapat menurunkan kualitas material hasil daur ulang jika beberapa jenis plastik diproses bersama.
- Ada komponen tambahan. Tinta, coating, adhesive dan sisa produk ikut memengaruhi proses pengolahan.
- Kemasan sangat ringan dan tipis. Flexible film memiliki bulk density rendah, sehingga pengumpulan, penyortiran dan pemrosesannya lebih sulit dibandingkan sejumlah jenis kemasan kaku.
- Komposisi tidak mudah dikenali. Material yang tampak serupa dapat memiliki susunan lapisan berbeda.
Karena itu, istilah yang lebih tepat adalah sulit didaur ulang, bukan otomatis tidak dapat didaur ulang.
Apakah Kemasan Ini Bisa Didaur Ulang?
Bisa atau tidaknya diproses bergantung pada komposisi material, desain, sistem pengumpulan, kemampuan penyortiran dan teknologi yang tersedia.
Untuk flexible packaging multilayer telah dikembangkan berbagai pendekatan, termasuk mechanical recycling untuk struktur tertentu, delamination, selective dissolution serta sejumlah metode chemical dan thermochemical recycling. Masalahnya, belum ada satu jalur sederhana dan universal untuk seluruh kombinasi bahan.
Keberadaan teknologi juga tidak berarti setiap kemasan bekas dapat masuk ke sistem daur ulang lokal. Struktur yang lebih kompatibel dengan aliran daur ulang umumnya lebih mudah diproses daripada laminasi yang menggabungkan beberapa bahan berbeda.
Aturan di Indonesia
Indonesia sudah memasukkan jenis kemasan tertentu ke dalam kebijakan pengurangan sampah produsen melalui Permen LHK No. 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
Untuk kemasan fleksibel plastik sekali pakai berbahan polypropylene (PP), lampiran peraturan menetapkan penghentian penggunaan format saset dengan ukuran kurang dari 50 ml atau 50 gram mulai 1 Januari 2030. Contohnya mencakup produk makanan, sabun dan sampo.
Sebelum ketentuan tersebut berlaku efektif, dokumen itu juga mencantumkan beberapa pendekatan untuk produsen:
- menggunakan monolayer;
- menggunakan material yang dapat didaur ulang;
- memakai recycled content;
- menerapkan closed-loop atau open-loop recycling;
- menggunakan kemasan yang dapat dimanfaatkan kembali.
Ketentuan ini tidak berarti seluruh kemasan berukuran kecil di Indonesia dilarang mulai 2030. Ruang lingkupnya spesifik pada kemasan fleksibel plastik PP sekali pakai dengan ukuran yang ditentukan dalam peraturan.
Masalah Sampah yang Perlu Dipahami
Format kecil memberi keuntungan teknis yang nyata: ringan, hemat ruang dan dapat melindungi produk dalam porsi terbatas. Struktur multilayer juga memungkinkan beberapa fungsi perlindungan digabungkan dalam material yang tipis.
Masalah muncul ketika kemasan sekali pakai dengan struktur kompleks memasuki aliran sampah. Kombinasi lapisan yang efektif melindungi produk justru dapat menyulitkan pemisahan dan daur ulang setelah pemakaian.
Karena itu, persoalannya tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta konsumen membuang kemasan pada tempatnya. Desain, pilihan material, sistem pengumpulan, penyortiran dan fasilitas pengolahan menentukan apakah material tersebut benar-benar dapat kembali ke siklus produksi.
Untuk langkah di tingkat konsumen, pembahasan dapat dilanjutkan pada panduan cara mengurangi sampah sachet, termasuk mengurangi pembelian kemasan sekali pakai dan memilih sistem isi ulang ketika tersedia.

